Saturday, 21 March 2015

KESEHATAN MENTAL DALAM ISLAM



KESEHATAN MENTAL DALAM ISLAM

SILATURAHMI DAN KESEHATAN MENTAL

DOSEN PENGAMPU
Drs. Dulhadi M, Pd.

O
L
E
H


Vella Vandany Putri
1123200040





JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS USHULUDIN, ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PONTIANAK
2014



KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil’aalamin, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah membentangkan dua jalan untuk hamba-Nya dan berkuasa menunjuki hati hamba kepada hidayah dan cahaya-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad SAW., keluarganya, para sahabatnya, tabiin dan tabiit dan seluruh umatnya yang bertetapan mengikuti tuntunan dan teladannya. Amin Ya Rabbal’aalamin.
Terimah kasih kepada Allah SWT. Yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Mungkin kata sempurna masih jauh untuk penulisan makalah ini, tapi saya akan berusaha untuk meyelesaikan tulisan ini sebaik mungkin. Semoga apa yang saya tulis dalam makalah inni dapat bermanfaat dan menambah wawasan. Amin Ya Rabbal’aalamin.



Pontianak, 13 Januari 2015

          Vella Vandany Putri




BAB 1
PENDDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sesungguhnya silaturrahim/silaturahmi termasuk ibadah kepada Allah yang paling baik dan ketaatan yang paling agung, kedudukan yang tertinggi dan berkah yang besar, serta yang paling umum manfaatnya di dunia dan akhirat. Maka silaturrahim merupakan kebutuhan secara fitrah dan sosial, yang dituntut oleh fitrah yang benar dan dicenderungi oleh tabiat yang selamat. Sesungguhnya sempurnalah dengannya keakraban, tersebar kasih sayang dengan perantaraannya, dan merata rasa cinta.Ia adalah bukti kemuliaan, tanda muru`ah, mengusahakan bagi seseorang kemuliaan, pengaruh, dan wibawa. Karena alasan itulah berlomba-lomba padanya orang-orang mulia yang berakal, maka mereka menyambung (tali silaturrahim) kepada orang yang memutuskan dan memberi kepada orang yangtidak mau memberi, serta bersifat santun kepada yang bodoh. Tidaklah Nampak muru`ah kecuali ada padanya tali kekeluargaan yang disambung kembali,kebaikan yang diberikan, kesalahan yang dimaafkan, dan uzur yang diterima dan sesuai firman Allah SWT. :
      “Sesunggunya orang-orang mukmin itu bersaudara, sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu”. (QS. Al-Hujurat : 10)

Pada makalah ini saya sebagai penulis akan menyampaikan beberapa hal mengenai silaturahmi, semoga makalah ini menjadi bermanfaat untuk kita semua. Amin.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dan keutamaan silaturahmi ?
2.      Bagaimana memelihara silaturahmi dan manfaat silaturahmi ?
3.      Bagaimana larangan memutuskan silaturahmi ?
4.      Bagaiamana hubungan silaturahmi dengan kesehatan mental ?

C.    Tujuan
      Tujuan dari dibuatnya makalah ini guna menambah wawasan dan pengetahuan kepada mahasiswa alangkah penting dan sangat berharga sekali memelihara persaudaraan dan silaturahmi. Seperti yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah bersabda:
      “Barangsiapa yang bersaudara dengan seseorang karena Allah, niscaya Allah akan mengangkatnya ke suatu derajat di surga yang tidak bisa diperolehnya dengan sesuatu dariamalnya.” ( HR. Muslim).


           


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Silaturahmi dan Keutamannya
Menurut bahasa silaturahmi adalah (shilah ar-rahim dibentuk dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah berasal dari washala-yashilu-wasl(an)wa shilat(an), artinya adalah hubungan. Adapun ar-rahim atau ar-rahm, jamaknya arhâm, yakni rahim atau kerabat. Asalnya dari ar-rahmah (kasih sayang); ia digunakan untuk menyebut rahim atau kerabat karena orang-orang saling berkasih sayang, karena hubungan rahim atau kekerabatan itu. Di dalam al-Quran, kata al-arhâm terdapat dalam tujuh ayat, semuanya bermakna rahim atau kerabat.
Dengan demikian, secara bahasa shilah ar-rahim (silaturahmi) artinya adalah hubungan kekerabatan.
Sedangkan pengertian secara Syar‘i adalah Banyak nash syariat yang memuat kata atau yang berkaitan dengan shilah ar-rahim. Maknanya bersesuaian dengan makna bahasanya, yaitu hubungan kekerabatan. Syariat memerintahkan agar kita senantiasa menyambung dan menjaga hubungan kerabat (shilah ar-rahim). Sebaliknya, syariat melarang untuk memutuskan silaturahim. Abu Ayub al-Anshari menuturkan, “Pernah ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw., “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku perbuatan yang akan memasukkan aku ke dalam surga.” Lalu Rasulullah saw. menjawab:
«تَعْبُدُ اللهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ وَتُؤَتِيْ الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ»
“ Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi”. (HR al-Bukhari). 
Hadist ini, meskipun menggunakan redaksi berita, maknanya adalah perintah. Pemberitahuan bahwa perbuatan itu akan mengantarkan pelakunya masuk surga, merupakan qarînah jâzim (indikasi yang tegas).
Adapun keutamaan darai silaturahmi, yaitu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم :
مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
(أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ).
             Dari Abi Hurairah ra. Ia berkata : bersabda rasulullah saw. :
 “ Barang siapa yang ingin di luaskan rizqinya dan di panjangkan umurnya  maka hendaknya ia menyambung silaturahmi”. ( H.R Bukhari).
      Hadits yang ini memberikan salah satu gambaran tentang keutamaan silaturahmi. Yaitu dipanjangkan umur pelakunya dan dilapangkan rizkinya.
Disamping itu adanya keutamaan silaturahmi yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam banyak hadits. Diantaranya ialah :
1.      Silaturahmi merupakan salah satu tanda dan kewajiban iman. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits Abu Hurairh, beliau bersabda, dipanjangkan umur dan dilapangkan rizkinya oleh allah
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi.(Mutafaqun ‘alaihi).
2.      Mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah Ta’ala . Sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:
Artinya: “Allah menciptakan makhlukNya, ketika selesai menyempurnakannya, bangkitlah rahim dan berkata,”Ini tempat orang yang berlindung kepada Engkau dari pemutus rahim.” Allah menjawab, “Tidakkah engkau ridha, Aku sambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?” Dia menjawab,“Ya, wahai Rabb.”(Mutafaqun ‘alaihi).

Ibnu Abi Jamrah berkata,“Kata ‘Allah menyambung’, adalah ungkapan dari besarnya karunia kebaikan dari Allah kepadanya.” Sedangkan Imam Nawawi menyampaikan perkataan ulama dalam uraian beliau,“Para ulama berkata, ‘hakikat shilah adalah kasih-sayang dan rahmat. Sehingga, makna kata ‘Allah menyambung’ adalah ungkapan dari kasih-sayang dan rahmat Allah.”
3.      Silaturahmi adalah salah satu sebab penting masuk syurga dan dijauhkan dari api neraka. Sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam: Artinya: “Dari Abu Ayub Al Anshari, beliau berkata, seorang berkata,”Wahai Rasulullah, beritahulah saya satu amalan yang dapat memasukkan saya ke dalam syurga.” Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab,“Menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan bersilaturahmi.”

B.     Memelihara Silaturahmi dan Manfaatnya
Dalam memelihara silaturahmi/ bersilaturahmi pastinya kita juga menjalin sebuah komunikasi maupun berkunjung ke rumah-rumah kerabat, teman dan lainnya. Menurut (Khalid, 2006) sebelum kita berkunjung kita mengucapkan salam maupun meminta izin agar ketika kita bersilaturhami akan terjaga. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah, yaitu:

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan member salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu ingat).” (An-Nur: 27)

Melihat hal tersebut kita sebagai umat Islam telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjaga hubungan silaturahmi seperti yang dijelaskan dalam firman Allah SWT. yaitu:
"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."
      (Q.S. An-Nisaa: ayat 1)



Sebagai umat Islam, perintah Allah SWT. itu harus dipatuhi. Orang yang mematuhi perintah Allah adalah orang yang bertakwa. Takwa artinya terpeliharanya sifat diri untuk tetap taat dan patuh melaksanakan perintah Allah SWT. serta menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.
Di bawah ini terdapat beberapa cara yang dapat memelihara silaturami, yaitu:
  • Berkunjung kerumah saudara atau mengundangnya kerumah kita
  • Memberi bantuan dan sumbangan jika dia membutuhkan
  • Mengucapkan salam dan menanyakan kabarnya
  • Menghormati yang lebih tua dan menghormati yang lebih muda
  • Menengoknya bila sakit
  • Tidak berburuk sangka padanya
  • Mendoakannya dalam tiap kesempatan
            Adapun manfaat dari silaturahmi, diantaranya:
1.      Mendapatkan ridho dari Allah Shubhanallaahu wa Ta'la.
2.      Membuat orang yang kita dikunjungi berbahagia. Hal ini amat sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, yaitu "Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia.
3.      Menyenangkan malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturahmi.
4.      Disenangi oleh manusia.
5.      Membuat iblis dan setan marah.
6.      Memanjangkan usia.
7.      Menambah banyak dan berkah rejekinya.
8.       Membuat senang orang yang telah wafat. Sebenarnya mereka itu tahu keadaan kita yang masih hidup, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya tetap menjalin hubungan baik.
9.      Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan.
10.  Menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikannya (dalam hal ini, suka bersilaturahmi) akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.

C.    Larangan Memutuskan Silaturahmi
      Menurut (Syafe'i, 2003) “Dari Abdullah Bin Yusuf, memberitahukan kepada Malik Ibnu Syihab dari Atha bin Yazid, dari Abu Ayub Al-Anshari Bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
    “ Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam, mereka bertemu, lalu seorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik diantara keduanya adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam.” (HR. Bukhari).              
      Sudah menjadi sunatullah bahwa hubungan sesama manusia tidak selamanya baik, selali ada problem dan pertentangan. Hidup adalah perjuangan, tantangan, pengorbanan dan sekaligus perlombaan antar sesama manusia, tidak heran apabila terjadi pergesekan antar sesama manusia yang tidak mungkin dapat dihindarkan.
      Namun demikian, gesekan atau permusuhan tersebut jangan sampai diperpanjang sehingga melebihi tiga hari, yang ditandai dengan tidak saling menegur sapa dan saling menjauhi. Hal itu tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Apalagi jika dibiarkan berlarut-larut itu tidaklah baik.
      Jika kita memiliki masalah baik itu antara keluarga, teman maupun orang lain karena kita berbuat salah atau mereka yang melakukan kesalahan dan itu membuat hubungan diantara kita kerang baik sehingga menimbulkan permusuhan yang membuat kita tidak saling bertegur sapa hingga memutuskan silaturahmi, Apalagi jika dibiarkan berlarut-larut itu tidaklah baik. Seperti yang dijelaskan oleh (Munajjid, 2006) ia mengatakan bahwa Nabi memiliki cara dalam menyikapi kesalahan – kesalahan orang lain dengan cara memperbaiki kesalahan dan tidak membinyiarkannya secara berlarut-larut agar silaturahmi antara satu dengan lainnya tetap terjaga dengan baik dan tidak menimbulkan permusuhan.
Adapun ancaman bagi pemutus silaturahmi, antaranya:
1. Tidak Akan Masuk Surga
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah masuk surga orang yang memutus tali silaturrahim.” (HR. al-Bukhari no. 5984)

2. Mendapat Siksaan di Dunia dan di Akhirat
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada dosa yang lebih cepat siksaannya di dunia bagi pelakunya, serta diperlambat siksaannya di akhirat kelak dari pada orang yang zhalim dan memutus hubungan silaturahmi.” (ash-Shahihah no. 917)

D.    Hubungan Silaturahmi dengan Kesehatan mental
Seperti yang kita tahu bahwa silaturahmi itu merupakan hubungan kekerabatan, adanya suatu ikatan/tali persaudaraan atau adanya kekerabatan terhadap orang yang ada disekeliling kita maupun seluruh umat manusia terutama umat muslim yang saling berkasih saying satu sama lain. Sedangkan bersilaturahmi bearti mengikat tali persaudaraan.
Kesehatan mental secara adalah keadaan di mana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
Sedangkan kesehatan mental secara Islam menurut (Mudzakir, 2002) terhindarnya seseorang dari segala gejala, keluhan dan gangguan mental, baik berupa neurosis (ketidakseimbangan mental yang menyebabkan stress)  maupun psikosis (ketidakmampuan seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya).
Jadi, jika kita kaitkan antara silaturahmi/bersilaturahmi dengan kesehatan mental baik secara umum maupun secara Islam adalah dengan silaturahmi maupun bersilaturahmi itu sangat baik bagi kesehatan mental manusia karena pada dasarnya dengan silaturahmi yang di jelaskan oleh (Gymnastiar, 2004) menatakan bahwa silaturahmi secara berskala, penuh dengan perhatian, kasih saying dan ketulusan walaupun hanya beberapa saat, benar-benar akan memberikan kesan yang sangat mendalam. Apalagi, jika silaturahmi disertai dengan tanda mata, oleh-oleh atau hadiah ringan lainnya, Insya Allah akan menumbuhkan kasih sayang, tidak hanya itu tetapi mental kita akan jadi sehat karena hidup kita akan merasa bahagia.
Dengan demikian, silaturahmi memiliki kaitan dengan kesehatan mental sekaligus sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental manusia.
Menurut Riset puluhan tahun yang dilakukan MacArthur Foundation mengenai penuaan di AS menyimpulkan bahwa dua prediktor utama kesehatan manula adalah frekuensi silaturahmi dengan sanak-keluarga dan kehadiran dalam pertemuan-pertemuan. Perjumpaan positif antar manusia dapat menurunkan kadar hormon pemicu stres epinefrin/norepinefrin dan kortisol dalam darah. Sebaliknya, hormon yang memperkuat rasa saling percaya dan ikatan emosi, oksitosin dan vasopresin, justru meningkat. Ilmuwan juga menduga bahwa silaturahmi memicu dua neurotransmitter penting: dopamin, yang meningkatkan daya konsentrasi dan rasa bahagia, dan serotonin, yang mengurangi ketakutan dan kecemasan.
Melihat hal tersebut, silaturahmi yang kita lakukan membuat terwujudnya keharmonisan dalam fungsi jiwa serta terciptanya kemempuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan hatinya dan akan terhindar dari penyakit jiwa, sehingga mental kitapun menjadi sehat.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Jadi, silaturahmi sangatlah memiliki banyak manfaat bagi kita, tidak hanya secara rohaniah tetapi juga secara jasmaniah  dan memiliki pengaruh terhadap hidup yang kita jalani, hal tersebut juga dapat membuat hidup kita terasa bahagia bersama orang-orang yang berada di sekeliling kita dan kita juga dapat hidup rukun maupun damai serta memiliki mental yang sehat.

B.     Saran
Buat para pembaca dan teman-teman semoga makalah ini dapat bermanfaat, menambah wawasan dan apa yang dituliskan diharapkan untuk pembaca dan teman-teman dapat mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, jangan sampai memutuskan silaturahmi, tapi pereratlah silaturahmi itu. Terima kasih.



DAFTAR PUSTAKA
Gymnastiar, A. (2004). Jagalah Hati ( Step by Step Manajemen Qolbu).   Bandung: Khas MQ.
Khalid, A. (2006). Muslim Bukan Individualis. Solo: Aqwam.
Mudzakir, A. M. (2002). Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Munajjid, M. S. (2006). Cara Nabi Menyikapi Kesalahan Orang Lain. Jakarta Selatan: Darul Wathan, Riyad.
Syafe'i, R. (2003). Al Hadist (Akidah,Sosial dan Hukum). Bandung: Pustaka Setia.
Al-Quran dan Terjemahan








No comments:

Coffee Shop

        Cetho.kedai merupakan salah satu tempat nongkrong dan santai di Pontianak yang estetik. Memiliki berbagai varian minumam dan kopi, ...