KESEHATAN MENTAL DALAM ISLAM
SILATURAHMI DAN
KESEHATAN MENTAL
DOSEN
PENGAMPU
Drs. Dulhadi
M, Pd.
O
L
E
H
Vella Vandany Putri
1123200040

JURUSAN BIMBINGAN
KONSELING ISLAM
FAKULTAS USHULUDIN, ADAB
DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI (IAIN)
PONTIANAK
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil’aalamin, puji syukur
kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah membentangkan dua jalan untuk
hamba-Nya dan berkuasa menunjuki hati hamba kepada hidayah dan cahaya-Nya.
Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita, Nabi
besar Muhammad SAW., keluarganya, para sahabatnya, tabiin dan tabiit dan
seluruh umatnya yang bertetapan mengikuti tuntunan dan teladannya. Amin Ya
Rabbal’aalamin.
Terimah kasih kepada Allah SWT. Yang telah
memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Mungkin kata sempurna masih jauh untuk penulisan makalah ini, tapi saya akan
berusaha untuk meyelesaikan tulisan ini sebaik mungkin. Semoga apa yang saya
tulis dalam makalah inni dapat bermanfaat dan menambah wawasan. Amin Ya
Rabbal’aalamin.
Pontianak, 13 Januari 2015
Vella Vandany Putri
BAB 1
PENDDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sesungguhnya silaturrahim/silaturahmi termasuk ibadah
kepada Allah yang paling baik dan ketaatan yang paling agung, kedudukan yang
tertinggi dan berkah yang besar, serta yang paling umum manfaatnya di dunia dan
akhirat. Maka silaturrahim merupakan kebutuhan secara fitrah dan sosial, yang
dituntut oleh fitrah yang benar dan dicenderungi oleh tabiat yang selamat.
Sesungguhnya sempurnalah dengannya keakraban, tersebar kasih sayang dengan
perantaraannya, dan merata rasa cinta.Ia adalah bukti kemuliaan, tanda muru`ah,
mengusahakan bagi seseorang kemuliaan, pengaruh, dan wibawa. Karena alasan
itulah berlomba-lomba padanya orang-orang mulia yang berakal, maka mereka
menyambung (tali silaturrahim) kepada orang yang memutuskan dan memberi kepada
orang yangtidak mau memberi, serta bersifat santun kepada yang bodoh. Tidaklah Nampak
muru`ah kecuali ada padanya tali kekeluargaan yang disambung kembali,kebaikan
yang diberikan, kesalahan yang dimaafkan, dan uzur yang diterima dan sesuai
firman Allah SWT. :
“Sesunggunya
orang-orang mukmin itu bersaudara, sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua
saudaramu itu”. (QS. Al-Hujurat : 10)
Pada makalah ini saya sebagai penulis akan menyampaikan
beberapa hal mengenai silaturahmi, semoga makalah ini menjadi bermanfaat untuk
kita semua. Amin.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dan keutamaan silaturahmi ?
2. Bagaimana memelihara silaturahmi dan manfaat silaturahmi ?
3. Bagaimana larangan memutuskan silaturahmi ?
4. Bagaiamana hubungan silaturahmi dengan kesehatan mental ?
C.
Tujuan
Tujuan dari
dibuatnya makalah ini guna menambah wawasan dan pengetahuan kepada mahasiswa
alangkah penting dan sangat berharga sekali memelihara persaudaraan dan
silaturahmi. Seperti yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang bersaudara dengan seseorang karena Allah, niscaya
Allah akan mengangkatnya ke suatu derajat di surga yang tidak bisa diperolehnya
dengan sesuatu dariamalnya.” ( HR. Muslim).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Silaturahmi dan Keutamannya
Menurut bahasa silaturahmi adalah (shilah
ar-rahim dibentuk dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah berasal dari
washala-yashilu-wasl(an)wa shilat(an), artinya adalah hubungan. Adapun ar-rahim
atau ar-rahm, jamaknya arhâm, yakni rahim atau kerabat. Asalnya dari ar-rahmah
(kasih sayang); ia digunakan untuk menyebut rahim atau kerabat karena
orang-orang saling berkasih sayang, karena hubungan rahim atau kekerabatan itu.
Di dalam al-Quran, kata al-arhâm terdapat dalam tujuh ayat, semuanya bermakna
rahim atau kerabat.
Dengan demikian, secara bahasa shilah ar-rahim
(silaturahmi) artinya adalah hubungan kekerabatan.
Sedangkan pengertian secara Syar‘i adalah Banyak nash
syariat yang memuat kata atau yang berkaitan dengan shilah ar-rahim. Maknanya
bersesuaian dengan makna bahasanya, yaitu hubungan kekerabatan. Syariat
memerintahkan agar kita senantiasa menyambung dan menjaga hubungan kerabat
(shilah ar-rahim). Sebaliknya, syariat melarang untuk memutuskan silaturahim.
Abu Ayub al-Anshari menuturkan, “Pernah ada seorang laki-laki bertanya kepada
Nabi saw., “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku perbuatan yang akan
memasukkan aku ke dalam surga.” Lalu Rasulullah saw. menjawab:
«تَعْبُدُ اللهَ
لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ وَتُؤَتِيْ الزَّكَاةَ وَتَصِلُ
الرَّحِمَ»
“ Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan
sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi”. (HR
al-Bukhari).
Hadist ini, meskipun menggunakan redaksi berita, maknanya
adalah perintah. Pemberitahuan bahwa perbuatan itu akan mengantarkan pelakunya
masuk surga, merupakan qarînah jâzim (indikasi yang tegas).
Adapun
keutamaan darai silaturahmi, yaitu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم :
مَنْ أََحَبَّ
أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ
فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
(أَخْرَجَهُ
اَلْبُخَارِيُّ).
Dari Abi Hurairah ra. Ia berkata :
bersabda rasulullah saw. :
“ Barang siapa
yang ingin di luaskan rizqinya dan di panjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung silaturahmi”. ( H.R
Bukhari).
Hadits yang
ini memberikan salah satu gambaran tentang keutamaan silaturahmi. Yaitu dipanjangkan
umur pelakunya dan dilapangkan rizkinya.
Disamping itu adanya keutamaan silaturahmi yang
dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam banyak hadits.
Diantaranya ialah :
1.
Silaturahmi
merupakan salah satu tanda dan kewajiban iman. Sebagaimana dijelaskan
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits Abu Hurairh, beliau
bersabda, dipanjangkan umur dan dilapangkan rizkinya oleh allah
Artinya: “Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi.” (Mutafaqun
‘alaihi).
2.
Mendapatkan
rahmat dan kebaikan dari Allah Ta’ala . Sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi
Wasallam:
Artinya: “Allah
menciptakan makhlukNya, ketika selesai menyempurnakannya, bangkitlah rahim dan
berkata,”Ini tempat orang yang berlindung kepada Engkau dari pemutus rahim.”
Allah menjawab, “Tidakkah engkau ridha, Aku sambung orang yang menyambungmu dan
memutus orang yang memutusmu?” Dia menjawab,“Ya, wahai Rabb.”” (Mutafaqun
‘alaihi).
Ibnu Abi Jamrah berkata,“Kata ‘Allah menyambung’, adalah
ungkapan dari besarnya karunia kebaikan dari Allah kepadanya.” Sedangkan Imam
Nawawi menyampaikan perkataan ulama dalam uraian beliau,“Para ulama berkata,
‘hakikat shilah adalah kasih-sayang dan rahmat. Sehingga, makna kata ‘Allah
menyambung’ adalah ungkapan dari kasih-sayang dan rahmat Allah.”
3.
Silaturahmi
adalah salah satu sebab penting masuk syurga dan dijauhkan dari api neraka.
Sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam: Artinya: “Dari
Abu Ayub Al Anshari, beliau berkata, seorang berkata,”Wahai Rasulullah,
beritahulah saya satu amalan yang dapat memasukkan saya ke dalam syurga.”
Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab,“Menyembah Allah dan tidak
menyekutukanNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan bersilaturahmi.”
B.
Memelihara
Silaturahmi dan Manfaatnya
Dalam memelihara silaturahmi/ bersilaturahmi pastinya
kita juga menjalin sebuah komunikasi maupun berkunjung ke rumah-rumah kerabat,
teman dan lainnya. Menurut (Khalid, 2006) sebelum kita berkunjung kita mengucapkan
salam maupun meminta izin agar ketika kita bersilaturhami akan terjaga. Seperti
yang dijelaskan dalam firman Allah, yaitu:
Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan member salam
kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu
ingat).” (An-Nur: 27)
Melihat hal tersebut kita sebagai umat Islam telah diperintahkan
oleh Allah SWT untuk menjaga hubungan silaturahmi seperti yang dijelaskan dalam
firman Allah SWT. yaitu:
"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi
kamu."
(Q.S.
An-Nisaa: ayat 1)
Sebagai umat Islam, perintah Allah SWT. itu harus dipatuhi. Orang yang
mematuhi perintah Allah adalah orang yang bertakwa. Takwa artinya
terpeliharanya sifat diri untuk tetap taat dan patuh melaksanakan perintah
Allah SWT. serta menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.
Di bawah ini terdapat beberapa cara yang dapat memelihara silaturami,
yaitu:
- Berkunjung kerumah saudara atau mengundangnya kerumah kita
- Memberi bantuan dan sumbangan jika dia membutuhkan
- Mengucapkan salam dan menanyakan kabarnya
- Menghormati yang lebih tua dan menghormati yang lebih muda
- Menengoknya bila sakit
- Tidak berburuk sangka padanya
- Mendoakannya dalam tiap kesempatan
Adapun manfaat dari silaturahmi, diantaranya:
1. Mendapatkan ridho
dari Allah Shubhanallaahu wa Ta'la.
2. Membuat orang yang kita
dikunjungi berbahagia. Hal ini amat sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam, yaitu "Amal yang paling utama adalah membuat seseorang
berbahagia.
3. Menyenangkan
malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturahmi.
4. Disenangi oleh
manusia.
5. Membuat iblis dan
setan marah.
6. Memanjangkan usia.
7. Menambah banyak dan
berkah rejekinya.
8. Membuat senang orang yang telah wafat.
Sebenarnya mereka itu tahu keadaan kita yang masih hidup, namun mereka tidak
dapat berbuat apa-apa. Mereka merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya
tetap menjalin hubungan baik.
9. Memupuk rasa cinta
kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan,
mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan.
10. Menambah pahala
setelah kematiannya, karena kebaikannya (dalam hal ini, suka bersilaturahmi)
akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.
C.
Larangan
Memutuskan Silaturahmi
Menurut (Syafe'i, 2003) “Dari Abdullah Bin
Yusuf, memberitahukan kepada Malik Ibnu Syihab dari Atha bin Yazid, dari Abu
Ayub Al-Anshari Bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“ Tidak halal
bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam, mereka
bertemu, lalu seorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik
diantara keduanya adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam.” (HR.
Bukhari).
Sudah menjadi
sunatullah bahwa hubungan sesama manusia tidak selamanya baik, selali ada problem
dan pertentangan. Hidup adalah perjuangan, tantangan, pengorbanan dan sekaligus
perlombaan antar sesama manusia, tidak heran apabila terjadi pergesekan antar
sesama manusia yang tidak mungkin dapat dihindarkan.
Namun
demikian, gesekan atau permusuhan tersebut jangan sampai diperpanjang sehingga
melebihi tiga hari, yang ditandai dengan tidak saling menegur sapa dan saling
menjauhi. Hal itu tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Apalagi jika dibiarkan
berlarut-larut itu tidaklah baik.
Jika kita memiliki
masalah baik itu antara keluarga, teman maupun orang lain karena kita berbuat
salah atau mereka yang melakukan kesalahan dan itu membuat hubungan diantara
kita kerang baik sehingga menimbulkan permusuhan yang membuat kita tidak saling
bertegur sapa hingga memutuskan silaturahmi, Apalagi jika dibiarkan
berlarut-larut itu tidaklah baik. Seperti yang dijelaskan oleh (Munajjid, 2006) ia mengatakan bahwa
Nabi memiliki cara dalam menyikapi kesalahan – kesalahan orang lain dengan cara
memperbaiki kesalahan dan tidak membinyiarkannya secara berlarut-larut agar
silaturahmi antara satu dengan lainnya tetap terjaga dengan baik dan tidak
menimbulkan permusuhan.
Adapun ancaman bagi pemutus silaturahmi, antaranya:
1. Tidak Akan Masuk Surga
Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Tidaklah masuk surga orang yang memutus tali
silaturrahim.” (HR. al-Bukhari no. 5984)
2. Mendapat Siksaan di Dunia
dan di Akhirat
Sebagaimana sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada dosa yang lebih cepat siksaannya di
dunia bagi pelakunya, serta diperlambat siksaannya di akhirat kelak dari pada
orang yang zhalim dan memutus hubungan silaturahmi.” (ash-Shahihah no. 917)
D.
Hubungan
Silaturahmi dengan Kesehatan mental
Seperti yang kita tahu bahwa silaturahmi itu merupakan hubungan
kekerabatan, adanya suatu ikatan/tali persaudaraan atau adanya kekerabatan
terhadap orang yang ada disekeliling kita maupun seluruh umat manusia terutama
umat muslim yang saling berkasih saying satu sama lain. Sedangkan
bersilaturahmi bearti mengikat tali persaudaraan.
Kesehatan mental secara
adalah keadaan di mana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap
dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri
dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi
masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya
serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
Sedangkan kesehatan mental secara Islam menurut (Mudzakir, 2002) terhindarnya seseorang dari segala
gejala, keluhan dan gangguan mental, baik berupa neurosis (ketidakseimbangan mental yang menyebabkan stress) maupun psikosis (ketidakmampuan seseorang
menilai realita dengan fantasi dirinya).
Jadi, jika kita kaitkan antara silaturahmi/bersilaturahmi dengan kesehatan
mental baik secara umum maupun secara Islam adalah dengan silaturahmi maupun
bersilaturahmi itu sangat baik bagi kesehatan mental manusia karena pada
dasarnya dengan silaturahmi yang di jelaskan oleh (Gymnastiar, 2004) menatakan bahwa silaturahmi secara
berskala, penuh dengan perhatian, kasih saying dan ketulusan walaupun hanya
beberapa saat, benar-benar akan memberikan kesan yang sangat mendalam. Apalagi,
jika silaturahmi disertai dengan tanda mata, oleh-oleh atau hadiah ringan
lainnya, Insya Allah akan menumbuhkan kasih sayang, tidak hanya itu tetapi
mental kita akan jadi sehat karena hidup kita akan merasa bahagia.
Dengan demikian, silaturahmi memiliki kaitan dengan kesehatan mental
sekaligus sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental manusia.
Menurut Riset puluhan tahun yang dilakukan MacArthur Foundation
mengenai penuaan di AS menyimpulkan bahwa dua prediktor utama kesehatan manula
adalah frekuensi silaturahmi dengan sanak-keluarga dan kehadiran dalam
pertemuan-pertemuan. Perjumpaan positif antar manusia dapat menurunkan kadar
hormon pemicu stres epinefrin/norepinefrin dan kortisol dalam darah.
Sebaliknya, hormon yang memperkuat rasa saling percaya dan ikatan emosi,
oksitosin dan vasopresin, justru meningkat. Ilmuwan juga menduga bahwa
silaturahmi memicu dua neurotransmitter penting:
dopamin, yang meningkatkan daya konsentrasi dan rasa bahagia, dan serotonin,
yang mengurangi ketakutan dan kecemasan.
Melihat hal tersebut, silaturahmi yang kita lakukan
membuat terwujudnya keharmonisan dalam fungsi jiwa serta terciptanya kemempuan
untuk menghadapi permasalahan sehari-hari sehingga merasakan kebahagiaan dan
kepuasan hatinya dan akan terhindar dari penyakit jiwa, sehingga mental kitapun
menjadi sehat.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Jadi, silaturahmi sangatlah memiliki banyak manfaat bagi
kita, tidak hanya secara rohaniah tetapi juga secara jasmaniah dan memiliki pengaruh terhadap hidup yang
kita jalani, hal tersebut juga dapat membuat hidup kita terasa bahagia bersama
orang-orang yang berada di sekeliling kita dan kita juga dapat hidup rukun
maupun damai serta memiliki mental yang sehat.
B.
Saran
Buat para pembaca dan teman-teman semoga makalah ini
dapat bermanfaat, menambah wawasan dan apa yang dituliskan diharapkan untuk
pembaca dan teman-teman dapat mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari,
jangan sampai memutuskan silaturahmi, tapi pereratlah silaturahmi itu. Terima
kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Gymnastiar, A. (2004). Jagalah
Hati ( Step by Step Manajemen Qolbu). Bandung: Khas MQ.
Khalid, A. (2006). Muslim
Bukan Individualis. Solo: Aqwam.
Mudzakir, A. M. (2002). Nuansa-Nuansa
Psikologi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Munajjid, M. S. (2006). Cara
Nabi Menyikapi Kesalahan Orang Lain. Jakarta Selatan: Darul Wathan, Riyad.
Syafe'i, R. (2003). Al
Hadist (Akidah,Sosial dan Hukum). Bandung: Pustaka Setia.
Al-Quran dan Terjemahan
No comments:
Post a Comment